Juni 08, 2012

3 ilmu yang wajib dipelajari dalam islam

3 ILMU YANG HARUS DIPELAJARI

Dalam hadist di jelaskan" Al ilmu tsalatsatun wa ma siwa fahuwa fadlun, Ayatatun mukhamatun,Sunatun Qoimatun,au faridlotun adilatun"
Artinya: Ilmu itu ada tiga selain tiga itu adalah lebihan ( boleh dicari boleh tidak , dicari lebih utama), yaitu:
1. Ayat yang menghukumi (al Qur'an)
2. Sunnah yang tegak (Al hadist/ sunnah Nabi)
3. Ilmu bagi waris yang adil
dari dalil di ats jelas bahwa ilmu yang wajib di cari ada tiga yaitu alqur'an al hadist, dan ilmu bagi waris. Khusus ilmu bagi waris sudah ada dalam qur' an dan hadist, jadi kita cukup mempelajari atau mengkaji qur'an dan hadist. Bila kita amalkan iNsyallah tidak berat, tidak memerlukan biaya yang besar, dan semua orang bisa mengamalkan dan mempelajarinya. Artinya tidak memberatkan. Sebenarnya kalau kita mau mengaji kita akan pandai dan terhindar dari bid'ah serta Taklid (mengikuti amalan tanpa tahu ilmunya) dan kita tidak akan asal mengartikan suatu dalil.

Ahlulbait as. adalah sumber sejati ajaran Islam, sabda-sabda mereka adalah mata air kecemerlangan, sabda-sabda mereka adalah mutiara hikmah yang tak terhingga nilainya.

Di bawah ini sabda Imam ja’far ash Shadiq as. (imam Keenam Syi’ah Imamiyah, Ja’fariyah, Itsna’Asyariyah).

عن أبي عبد الله الصادق (ع) قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم : طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ علَىَ كُلِّ مُسْلِمٍ , ألآ إنَّ اللهَ يُحِبُّ بُغَاةَ اْلعِلْمِ .

Dari Imam Ja’far as beliu berkata : Rasulullah saww bersabda : Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim . Ketahuilah sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu .

Syarah[1]: Dalam hadis yang telah disepakati periwayataannya oleh umat Islam ini terdapat dua pembahasan, pertama: keutamaan ilmu pengetahuan, kedua: penentuan ilmu yang wajib dipelajari atas setiap Muslim.

Keutamaan Ilmu:

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, banyak ayat Al qur’an yang menerangkan keutamaan ilmu pengetahuan, diantaranya ialah: Allah SWT. berfirman:

شَهِدَ اللهُ أنَّهُ لآ إلَهَ إلاَّهُوَ وَالمَلاَئِكَةُ و أُوْلُوا العِلْمِ قائِمًا بالقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)…” (QS:3;18)

Dalam ayat di atas setelah Allah SWT. mengawali dengan menyebut diri-Nya, kemudian malaikat-Nya, Allah menyebut orang-orang yang berilmu. Dan ini adalah sebuah keutamaan besar yang disematkan untuk mereka. Allah SWT. berfirman:

يَرْفَعِ اللهُ الذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ و الذين أُوْتُوا العِلْمَ درَجاتٍ

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberilmu pengetahuan beberapa derajat.(QS:58;11) Ketika menjelaskan ayat di atas, Ibnu Abbas ra. berkata: Para ulama memiliki beberapa derajat diaas orang-orang Mu’min (yang tidak berilmu), sampai sejumlah tujuh ratus derajat, antara satu derajat dengan yang lainnya perjalanan lima ratus tahun lamanya.

Allah SW. berfirman:

هَلْ يَسْتَوِي الذين يَعْلَمُوْنَ و الذين لاَ يَعْلَمُوْنَ

Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.(QS:39;9)

Allah SWT. berfirman:

إَنَّما يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبادِهِ العُلَماؤُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama’.(QS:35;28)

Diriwayatkan dari Imam Ja’far as beliau bersabda tentang tafsir ayat di atas:

يعني بالعلماء من صدّق فعلُه قولَه، ومن لم يصدّق فعله قوله فليس بعالم.

Yang dimaksud dengan ulama’ (dalam ayat tersebut) adalah orang yang tindakannya sesuai dengan ucapanya. Maka barang siapa yang tindakanya tidak sesuai dengan ucapanya ia bukanlah seorang yang alim. Serta masih banyak ayat-ayat lain yang menegaskan keutamaan ilmu pengetahuan dan ulama’. Dan perlu diingat bahwa ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah memerintahkan agar membaca dengan nama Tuhan, dan di dalam surah al Qalam Allah SWT. bersumpah dengan pena. Hadis Nabi saw. juga tidak ketinggalan menerangkan keutamaan ilmu pengetahuan, seperti sabda Nabi saw. kepada Imam Ali as.:

Hai Ali, tidurnya orang yang alim (pandai) lebih utama dari ibadahnya orang yang abid (tapi jahil). Hai Ali, salat dua raka’at yang dilakukan orang alim lebih utama dari seribu raka’at salat orang abid. Hai Ali, tiada kefakiran lebih dari kejahilan dan tiada ibadah lebih dari tafakkur.

Imam Ja’far as. bersabda, “Jika hari kiamat tiba Allah mengumpulkan manusia dalam satu hamparan dan timbangan di tegakkan, lalu ditimbanglah darah para syuhada’ bersama tinta para ulama’ maka tinta para ulama’ lebih unggul dari darah para syuhada.

”Imam Ja’far as. beliau bersabda:

إنّ العلماء ورثة الأنبياء، وذاك أنّ الأنبياء لم يورثوا درهماّ ولادينارا، وإنّما أورثوا أحاديث من أحاديثهم، فمن أخذ بشيء منها فقد أخذ حظًّا وافراً، فانظروا علمكم هذا عمّن تأخذونه؟ فإنّ فينا أهل البيت في كلّ خلف عدولا ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين.

Sesungguhnya para ulama, adalah para pewaris para Nabi yg demikian itu kerena para Nabi tidak mewariskan uang dirham ( perak ) dan uang dinar (emas). Mereka hanya mewariskan Hadis-hadis (sabda-sabda) mereka, maka barang siapa mengambil sesuatu darinya berarti ia telah mengambil bagian yang besar . Maka perhatikan dari siapa kalian mengambil ilmu itu ? Karena sesunggughnya hanya dari kalangan kami Ahlulbait pada setiap zaman ada orang-orang baik (’udul) yang akan menyingkirkan dari agama ini pentahrifan orang-orang yang melampaui batas, klaim pembawa kebatilan dan ta’wil orang-orang jahil.

Dari Hammad bin Utsman dari Imam Ja’far as., beliau bersabda:

إذا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرا فَقَهََهُ فيِ الدِّيْنِ.

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka Dia akan menjadikannya mengerti agama.

Imam Muhammad al-Baqir as. bersabda:

عَالِمٌ يُنْتَفَعُ بعِلْمِهِ أفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ ألْفِ عَابِدٍ

Seorang yang alim yang ilmunya bermanfa’at lebih afdhal dari tujub puluh ribu abid.

Dari Imam Ja’far as beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وآله: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طريقا إلى الجنَِّة وَإنَّ المَلائِكَةَ لتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لطَالِبِ العِلْمِ رِضًا بِهِ و إنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِطَالِبِ العِلْمِ مَنْ في السَّمَاءِ ومَنْ في الأَرْضِ حتَّى الحوت في البحر، وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر النجوم ليلة البدر، وإنّ العلماء وَرَثَةُ الأنبياء , إن الأنبياء لم يُوَرِّثُوا ديناراً ولا درهما ولكن ورّثوا العلم فمن أخذ منه أخذ بحظّ وافر.

Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah akan menempatkannya diatas jalan menuju ke sorga. Dan sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela terhadapnya. Dan sesungguhnya seluruh yang berada di langit dan di bumi bahkan ikan-ikan di laut memohonkan ampun bagi penuntut ilmu. Dan Keutamaan seorang yang alim dibanding orang yang rajin ibadah (saja) seperti keutamaan bulan di banding bintang-bintang di langit pada bulan purnama. Dan sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para Nabi, sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan (uang) dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil sebagian darinya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak.

”Dan masih banyak lagi hadis-hadis lain tentang keutamaan ilmu dan para ulama’. Ilmu Yang Wajib Dipelajari Tentang ilmu apa yang wajib atas setiap untuk mempelajarinya seperti ditegaskan dalam hadis diatas? Para ulama’ berselisih tentangnya.
Para teolog mengatakan, “Yang wajib aini atas setiap Muslim untuk mempelajarinya ialah ilmu kalam, sebab dengannya dapat di kenal konsep keesaan Allah, sifat dan af’al-Nya. ”Para Fuqaha’ mengatakan ia adalah ilmu fikih karena dengannya seorang hamba dapat mengerjakan ibadah denga tepat dan benar, dapat mengerti halal dan haram. Para ahli tafsir dan hadis mengatakan ilmu yang wajib dipelajari ialah ilmu Al qur’an dan sunnah sebab ia adalah dasar ilmu-ilmu Islam. Para Shufi berpendapa yang wajib di pelajari adalah ilmu tentang suluk dan tata karma perjalanan seorang hamba.

Di sini perlu dijelaskan bahwa pendapat-pendapat di atas yang membatasi ilmu yang wabij dipelajari hanya pada jenis tertentu adalah kurang tepat. Kata ilmu seperi kata wujud (kebaradaan), ia termasuk kata-kata yang musytarakah (memiliki makna dan tingkatan yang berfariasi).
Jika demikian maka ilmu adalah sesuatu yang dengannya manusia menjadi sempurna dan ia butuhkan dalam ma’rifah (pengenalan) tentang dirinya dan tentang Tuhannya, tentang para Nabi utusan dan hujjah-hujjah Allah, pengenalan tentang pekerjaan yang dapat menghantarkanya menuju kebahagian, mendekatkan diri kepada Khaliqnya dan apa-apa yang dapat menghindarkannya dari kesengsaraan dan siksa serta jauh dari Allah SWT dan kampung kemuliaan di sisi-Nya.

Dan setiap kali ia telah meraih satu tinggkatan maka wajib atasnya merebut tingkatan diatasnya. Dan tiada batas bagi tingkatan-tingkatan tesebut, sebab tingakatan-tingkatan kedekatan di sisi Allah tiada batas. Dan tentunya tingkatan-tingkatan ilmu ini berbeda berdasarkan perbedaan kesiapan masing-masing orang bahkan berdasarkan perbedaan kondisi dan keadaan seorang sesuai dengan kesempurnaan yang telah dicapainya hari demi hari.
Oleh karenanya paling pandainya makhluk Allah; Nabi Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah agar memohon ditambah ilmu, “dan katakan: ” Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS:20;114)

Dan tentang waktu pembelajaran diterangkan dalam hadis: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang kubur”. Jadi makna hadis di atas demikian: sesungguhnya menuntut ilmu wajib atas setiap muslim, baik ia pandai ataupun ia jahil, baik ia kurang maupun ia sempurna (kalau dibanding dengan yang berada di bawahnya). Dan tentunya tingkatan-tingkatan ilmu ini berbeda berdasarkan perbedaan kesiapan masing-masing orang bahkan berdasarkan perbedaan kondisi dan keadaan seorang sesuai dengan kesempurnaan yang telah dicapainya hari demi hari.

Catatan:

Kemudian perlu diketahui bahwa sabda Nabi saw. pada akhir hadis di atas: “Ketahuilah sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu” menunjukkan bahwa ilmu yang para pencarinya dicintai Allah SWT. pastilah ilmu yang mulia, yang dicari hanya karena Allah, bukan karena sesuatu yang lain.

Dari Imam Bagir as. beliau bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِي بِهِ الْعلَََُمَاءَ ، أوْ يُمَارِي بِهِ السُفَهَاءَ ، أو يَصْرِفَ به وُجُوْهَ النَّاسِ إليه فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ، إنَّ الرِئَاسةَ لاََتَصْلُحُ إلاَّ لأَِهْلِهَا.

Barang siapa mencari ilmu untuk tujuan menyombongkan diri kepada para ulama’ dengan ilmu tersebut atau mendebat orang-orang yang bodoh dengannya atau memalingkan perhatian orang kepadanya, hendaknya menempati tempatnya di neraka, sesungguhnya kepemimpina tidak laik kecuali bagi ahli (pemilik)-nya.

Dari Imam Ja’far a.s beliau bersabda:

مَنْ أرَادَ الحَِديْثَ لِمَنْفَعَةِ الدُنْيَا لَمْ يَكُنْ لَه ُفيِ الآخِرَةِ نَصِيْبٌ، ومن أراد به خَيْرَ الآخرةِ أعْطَاهُ الله ُخَيْرَ الدنيا و الآخرةِ.

Barang siapa menginginkan hadis untuk meraih manfa’at duniawi, maka kelak di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian (kebaikan), dan barang siapa menginginkannya untuk tujuan kebaikan akhirat, Allah akan memberinya kebaikan dunia dan akhirat. Jadi mencari ilmu Allah SWT. hendaknya murni karena Allah dan untuk mendekakan diri kepada-Nya. Semoga kita semua di jadikan orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar